Wednesday, January 8, 2020

Pendidikan Karakter

Pengertian Pendidikan Karakter
Pengertian pendidikan karakter bervariasi menurut pendapat beberapa orang, katakanlah mereka itu disebut para ahli. Misalnya, menurut T. Ramli bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengedepankan esensi dan makna terhadap moral dan akhlak manusia sehingga hal tersebut akan mampu membentuk pribadi peserta didik yang baik. Kalau, Thomas Lickona berpendapat bahwa pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan dan melakukan nilai-nilai etika diri. Hal yang senada juga disampaikan oleh John w. Santrock. Katanya pendidikan karakter adalah pendidikan  untuk menanamkan nilai moral kepada murid mengenai pengetahuan moral. Ini hanya beberapa pendapat pakar ahli tentang pendidikan berkharakter. Namun, secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan karakter itu adalah pendidikan yang kita berikan kepada anak didik untuk memberdayakan mereka untuk membangun karakter dirinya sehingga menjadi individu yang bermoral, beretika, berkepribadian yang baik sesuai dengan norma-norma universal yang berlaku dan bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya.
Hal yang penting lagi adalah pendidikan karakter menurut Anis Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, dalam Reuni Akbar Pesantren Islam AL-Irsyad, Sabtu (06/01/2018). Dia mengatakan bahwa seseorang dikatakan berkharakter apabila seseorang itu beriman, bertakwa, dan berakhlak. Menurut Anis Baswedan bahwa karakter itu nomor satu. Tetapi punya karakter saja belum cukup dalam menghadapi kompetisi-kompetisi yang belum tentu bisa dimenangkan. Karena itu, seseorang juga harus mampu berpikir kritis, mampu untuk kreatif, mampu berkomunikasi dengan baik, dan mampu berkerjasama. Dan Hal lain yang penting adalah menumbuhkan kemampuan entrepreneurship, kemampuan berwirausaha, bergerak di bidang perekonomian. Dengan demikian saya pikir bahwa pendidikan karakter itu tidak hanya mendidik anak memiliki karakter kepribadian, tetapi anak didik harus juga memiliki karakter kompetensi, karakter berwirausaha, karakter dalam berhubungan dengan orang lain serta karakter dalam berkomunikasi. Jelas, bahwa untuk memberdayakan anak didik yang baik pendidikan karakter sangat penting dalam mengisi jadi dirinya dalam bersikap dan bertindak di zaman milenial ini.
Tujuan Pendidikan Karakter 
Pada dasarnya tujuan utama pendidikan karakter adalah untuk membangun kepribadian anak tangguh, yang berkepribdian akhlak mulia, bermoral, bertoleransi, dan bergotong-royong, yang ditunjang dengan kompetensi-kompetensi dalam dirinya untuk menghadapi zamannya.
Nilai-nilai pembentuk karakter itu diantaranya adalah:
  1. Kejujuran
  2. Sikap toleransi
  3. Disiplin
  4. Kerja keras
  5. Kreatif
  6. Kemandirian
  7. Sikap demokratis
  8. Rasa ingin tahu
  9. Semangat kebangsaan
  10. Cinta tanah air
  11. Menghargai prestasi
  12. Sikap bersahabat
  13. Cinta damai
  14. Gemar membaca
  15. Perduli terhadap lingkungan
  16. Perduli sosial
  17. Rasa tanggungjawab
  18. Religius
Kedelapan belas poin pembentuk karakter harus ditanamkan kepada diri anak didik secara bertahap dan berkesinambungan yang disesuaikan dengan perkembangan anak didik. Nilai karakter ini akan membentuk diri manusia yang kuat, kompetitif, reliji, dan mandiri. 

Ulasan-ulasan:
1. Kejujuran:
Kejujuran bisa dikatakan ibu dari segala kebaikan. Tetapi, tidak ada bapak dari segala kebaikan. He.he. Karena itu, sekolah harus mengajarkan kejujuran dan cara mengamalkannya kepada peserta didik dalam segala bentuk dan sifat dan karakter kebaikan lainnya. Kejujuran harus dibangun dan ditanamkan agar mereka memiliki nilai-nilai akhlak mulia yang diterapkan dalam kehidupannya. 
(bersambung)
.



Pendidikan zaman milenial

Pendidikan zaman milenial merupakan pendidikan yang berorientasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan zaman sekarang harus mengacu kepada percepatan perkembangan teknologi. Pendidikan membutuhkan teknologi yang membantu percepatan ilmu pengetahuan. Pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Muatan kurikulum sebagai landasan pendidikan haruslah menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman milenium sekarang. Kurikulum harus memberikan peluang dan alternatif untuk berkreasi dan inovatif demi menyesuaikan diri dengan zaman. Jelas, kurikulum lama harus meng-update dirinya agar hasil akhir dari muatan kurikulum itu mengantarkan siswa kepada siswa yang menyeleraskan dirinya dengan ilmu dan teknologi.Muatan kurikulum haruslah berisi muatan kompetensi yang tinggi. Baik muatan ilmu pengetahuan, kemampuan dan keterampilan, agama, dan karakter budaya harus difokuskan dengan tujuan agar siswa memiliki jiwa saing kompetitif yang berbahasa, beragama dan berkharakter. Karena itu, pendidikan zaman sekarang memang harus perlu disesuaikan perkembangan zaman.        Kurikulum harus bermuatan penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, sebagai bahasa pengantar yang paling banyak digunakan untuk informasi-informasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Hampir 80% bahasa Inggris digunakan dalam menyampaikan berita-berita, pesan-pesan, hasil penelitian, dan hukum-hukum internasional, atau informasi penting lainnya diterjemahkan dan disampaikan ke dalam bahasa Inggris. Sehingga dengan demikian, penguasaan bahasa Inggris adalah suatu keharusan. Karena itu, untuk penguasaan bahassa Inggris, maka pengajaran bahasa Inggris untuk usia lebih dini merupakan suatu alternatif yang memungkinkan. Usia muda memungkinkan lebih cepat menguasai suatu bahasa asing jika dibandingkan dengan mereka yang berusia tua atau berusia lanjut. Pengajaran bahasa harus dimulai dari tingkat usia muda, misalnya diajarkan untuk anak-anak murid sekolah dasar. Mungkin saja, penargettan pengajaran bahasa Inggris diberikan untuk anak-anak usia dini. Bahkan, jika memungkinkan penambahan jam mengajar Inggris perlu dipertimbangkan. Begitu juga dengan kualitas mutu staf pengajar atau guru seharusnya memiliki daya kompetitif yang tinggi. Mampu mengharumkan nama sekolah dimata guru dan siswa,  sekolah-sekolah lain, Jelaslah kurikulum seharusnya menetapkan penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa Asing di Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan.       Bagian kedua, kurikulum juga harus menetapkan kemampuan guru dalam mengajar. Pernah sekali pemikiran ini terbersit pada diri saya. (bersambung)x