Kejujuran adalah sebuah kata sakral yang didambakan oleh setiap orang. Kejujuran sebagai asal kata jujur merupakan suatu karakter terpenting dalam hidup ini. Jujur bisa diartikan tidak berdusta, tidak berbohong, tidak mengada-ada, mengatakan apa adanya, menyampaikan seperti apa itu. Kejujuran dinantikan. Kejujuran didambakan. Kejujuran dijadikan hal nomor satu dalam setiap hubungan kemanusiaan. Kejujuran menjadi tolak ukur bagi semua orang untuk menciptakan suatu kepercayaann (trust). Kejujuran telah diajarkan sejak dahulu kala sampai sekarang agar terciptanya kedamaian. Akan tetapi, kejujuran di zaman milenial ini diwarnai oleh banyak kepalsuan. Kejujuran dijadikan kambing hitam untuk mencapai tujuan. Kejujuran ditumbalkan. Kejujuran dikhianati. Kejujuran menjadi gersang. Kejujuran sulit didapatkan. Haruskah kita membiarkan kejujuran itu gersang, hilang, dan tidak diperhatikan lagi? Haruskah kejujuran itu tinggal hanya sebagai lips service saja? Haruskah kejujuran dinodai dengan alasa-alasan dibuat-dibuat? Tentu saja banyak yang setuju bahwa kejujuran harus ditegakkan. "Sampaikanlah walau itu hanya satu ayat dan boleh jadi itu menyakitkan". Kejujuran itu meskipun terletak dalam lumpur, namun dia tetap kejujuran. Maka salah satu solusi jitu untuk menumbuhkan kejujuran adalah pendidikan karakter untuk generasi muda khususnya.
Mendidik anak jujur haruslah melalui contoh suri tauladan dari pendidik itu sendiri. Pendidik yang selalu berkata jujur dan menepati kata-katanya, biasanya menjadi contoh yang pantas ditiru oleh anak didik. Pendidik yang jujur disenangi oleh siswa-siswinya atau murid-muridnya di sekoah, bahkan di lingkungan masyarakat. Ketauladanan harus dipertahankan di sini. Jangan coba-coba itu diajarkan oleh oknum guru yang tidak jujur, perkataan guru itu nantinya akan menjadi pandangan bagi anak didik.
Kejujuran dalam ujian.
Sudahkah siswa jujur dalam ujian?
Secara umum, di sekolah tempat saya mengajar, secara jujur dikatakan bahwa sebagian besar siswa-siswa belum jujur dalam mengerjakan ujiannya. Masih banyak siswa yang menyelesaikan soal ujiannya dengan cara mencontek jawaban dari teman-temannya. Mereka melakukan berbagai cara agar mendapatkan jawaban itu. Meskipun tindakan mereka dijaga dan diawasi dengan ketat oleh guru atau pengawas ujian, namun sebagian besar masih bisa lolos dari pengawasan.
Rata-rata siswa yang lolos dari pengawasan saat ujian melakukan banyak hal yang cerdik buruk. Banyak trik yang mereka lakukan. Ada siswa yang mempersiapkan "jimat" sebelum ujian. Dari pantauan pengawas yang memermogoki peserta ujian, dia mengatakan bahwa "jimat' itu sudah mereka persiapkan dengan sempurna dari rumah. Istilah "jimat" itu sendiri baru diketahui yaitu catatan pelajaran yang siswa tulis atau ketik dengan tulisan yang amat kecil, misalnya dengan ukuran font 7 atau 6. Dan kertas untuk catatan jimat itu juga kecil mungil. Ukuran lebarnya bisa saja lebih kecil dari ukuran lebar telapak tangan. Tetapi ukuran kertas ke bawahnya sangat panjang. Bisa panjangnya tiga puluh sampai empat puluh centimeter. Dengan catatan yang ditulis dalam ukuran kertas sebesar ini (misalnya 4 cm x 30 cm) yang sering disebut "jimat", maka kertas itu dilipat dengan ukuran kecil-kecil hingga bisa disimpan dalam telapak tangan tanpa bisa dilihat oleh pengawas atau teman-teman siswa lainnya. Ukuran lipatan kecil itu bisa menjadi 4cm x 1 cm. Cukup rumit pembuatannya. Namun banyak siswa yang tidak perduli dengan tingkat kerumitan pembuatannya demi tujuannya tercapai. Yaitu bisa menjawab soal tanpa harus banyak belajar dan tanpa kerja keras. Demi untuk mencapai tujuan bisa menjawab semua soal dengan mudah, sebagian siswa rela mengorbankan kejujurannya.
Ada juga yang membuat "jimat" dengan menggunakan bahan lain. Ada siswa yang menulis beberapa catatan kecil, biasanya rumus-rumus, di atas bangku kayu tempat belajarnya. Bangku belajarnya ini biasanya telah penuh ditulis dengan berbagai catatan sebelum mereka ujian. Sehingganya, saat mereka mengalami kesulitan menjawab pertanyaan soal, maka dengan sigap dan cekatan, mereka bisa dengan mudah menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Tidak tanggung-tanggung, ada pula siswa yang menulis jimat itu di telapak tangannya. Ada juga yang nekat, siswi perempuan menuliskan jimat di atas roknya. Mereka berharap bahwa posisi jimat itu tidak akan dilihat oleh pengawas dengan anggapan pengawas merasa malu melihat roknya. Ada juga yang menulis jimat di atas rol plastik transparan. Sejenak, terlihat bahwa rol itu bersih, tidak terlihat coretan-coretan pena. tetapi, jika rol transparan itu diletakkan di atas kertas putih, maka coretan-coretan atau tulisan-tulisan jimat itu mudah terbaca. Peluang ini digunakan oleh siswa sebagai alat pembantu menjawab soal ujian. Demikianlah cara mereka memanfaatkan jimat agar bisa menjawab soal dengan mudah dan tanpa harus belajar di rumah.
Beberapa siswa "nakal" nekat mencari jawaban dengan melirik jawaban teman-temannya yang berada di sekitarnya. Dengan berani, siswa-siswi ini melihat lembara jawaban soal teman yang berada di samping kiri, disamping kanan, di belakang, dan di depan tempat duduknya. Maklum saja siswa ini mudah mendapatkan jawaba-jawaban itu karena bentuk jawaban itu hanyalah pilihan ganda (yaitu jawaban bertuliskan A, B, C, D, dan E). Dengan sekilas pandang saja, umumnya siswa sudah bisa menemukan tulisan jawaban A, B, C, D, dan E itu. Sungguh ketidak jujuran ini telah mengkontaminasi pikiran siswa dari waktu ke waktu. Suatu penciptaan ketidak jujuran yang sulit diterima.
Berapa siswa juga mengandalkan kekuatan telinganya, alias nguping, untuk mendapatkan jawaban dari teman-temannya yang saling berbisik memberikan jawaban. Dengan tangkas, siswa ini menangkap dengan cepat tentang jawaban apa yang dibahas oleh temannya. Wah. Memang ini suatu kegiatan yang tidak masuk akal. Tetapi, kenyataannya ini memang benar-benar terjadi. Kejujuran sudah lama dicederai oleh siswa.
Sikap Pengawas Ujian selama Ujian.
Terus terang, sikap pengawas ujian selama mengawas ujian sangat bervariasi. Ada pengawas yang begitu tegas dan sigap mengawasi siswa yang sedang ujian. Mereka betul-betul mengawasi perilaku peserta ujian dengan seksama. Pada kondisi ini, semua siswa berada dalam kondisi tidak nyaman. Resah dan prustasi. Siswa yang mencontek merasa gelisah karena tidak bisa berbuat apa-apa. Umumnya pengawas ujian seperti ini tidak disukai oleh siswa-siswa pencontek. Bahkan, pengawas ini ada juga yang ditegur oleh kepala sekolah atau guru-guru tertentu agar mengawas ujian tidak seketat itu. Hmmm. memang miris. Kejujuran lagi-lagi dicederai oleh sekolah itu sendiri. Alasannya adalah untuk membantu nilai siswa mendapatkan nilai yang baik.
Pada sisi lain, ada juga pengawas ujian yang bersikap cuek selama mengawas ujian. Pengawas seperti ini disukai oleh banyak peserta ujian. Bahkan kalau dapat, pengawas seperti ini menjadi pengawas favorit mereka. Pengawas cuek tidak perduli dengan kondisi pencontekan yang terjadi dihadapannya. Bahkan ada diantara pengawas jenis ini mengatakan "Asal kamu tenang dan tidak meribut selama ujian, saya tidak menegur kamu". Wah.. keterlaluan betul. Itu artinya, kamu mungkin boleh melihat jawaban atau mencontek asal tidak meribut dan risuh. Pengawas cuek sering melakukan pekerjaan lain dalam kegiatan mengawas. Ada pengawas yang membaca koran, duduk manis di meja pengawas sambil menikmati koran pagi. Ada juga yang mengerjakan tugas-tugas lain yang tidak ada hubungannya dengan tugas kepengawasannya. Kondisi ini berarti bahwa pengawas telah memberi peluang besar kepada peserta ujian untuk curang dan berbohong. Bukankah kejujuran lagi-lagi dicederai? Lalu siapa yang disalahkan dalam hal ini? Apakah kejujuran itu disebabkan oleh siswa atau pengawas? Jawabannya bisa beragam.
Di bahagian situasi lain, perlakuan guru terhadap siswa-siswa tertentu juga memicu ketidak jujuran. Ada oknum guru yang memberikan penilai tugas siswa di rumah, PR misalnya, berdasarkan hasilnya saja, tanpa menanyakan apakah siswa itu yang membuat sendiri atau dibuat oleh orang lain. Siswa-siswa yang memperoleh nilai lebih bagus dibandingkan dengan nilai-nilai siswa yang mengerjakan sendiri di rumah sangat berpengaruh kepada perhatiannya cara guru menilai. Karena penilaian berdasarkan hasil, maka sianak tadi berusaha untuk mencari hasil tugas yang terbaik, dengan cara lain. Yang penting tugas itu betul dan baik. Darimana asal jawaban, apalagi lewat bantuan google, itu tidak perduli. Toh, guru hanya butuh hasil jawaban yang benar. Akhirnya terjadilah ketidakjujuran dalam menyelesaikan tugasnya.
Cuplikan-cuplikan singkat catatan di atas menunjukkan bahwa ketidakjujuran itu sudah membiak di sekolah. Apakah ketidakjujuran ini harus kita biarkan? Ini adalah tanggungjawab kita bersama. Mengapa banyak orang berkata, "Demi masa depan anak kita, Cobalah mengawas dengan "baik". Bukankah mereka yang kita awasi ujian itu adalah "anak kita juga"? Inilah perkataan yang sering dilontarkan oleh oknum-oknum pejabat pendidikan, dengan tujuan agar pengawas ujian tidak begitu ketat dalam mengawasi peserta ujian. Waduuuuh... Sudah gila pendidikan kita ini dilihat dari segi ketidakjujuran. Asal nilai siswa baik, biarlah mereka mencontek. Beginilah kira-kira maksud oknum tersebut. Semoga kejadian ini bisa kita atasi.
Kita menyadari bahwa ketidakjujuran di sekolah bisa disebabkan oleh banyak hal. Bukan selama ujian saja, ketidakjujuran itu tampak, tetapi pada situasi-situasi pembelajaran lain terlihat di sekolah. Namun, ini sajalah dulu yang bisa saya bahas. Semoga kejujuran siswa dapat pulih kembali. Aamiin.
Thursday, January 9, 2020
Asal Bunyi
Asal bunyi atau diistilahkan orang asbun dalam pelatihan menulis pemula adalah sangat penting. proses penciptaan kata asal bunyi atau meletup saja tanpa memikirkan baik dan buruknya atau bagus atau tidaknya kata yang keluar akan mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menulis. Asal bunyi merupakan penulisan kata tanpa makna atau tidak akan muncul terus menerus dalam tulisan kita. Ini penting digunakan untuk latihan menulis karena kita memerlukan waktu dan ruang untuk mengeluarkan seluruh kata-kata dan ungkapan-ungkapan bahasa yang ada dalam pemikiran kita saat menulis. Tetapi apakah semua penulis pemula bisa menerima semua ini? Apakah semua orang mengatakan bahwa menulis asbun adalah betul-betul bullshit untuk sebuah hasil tulisan? Apakah dengan latihan asbun ini faedahnya bagi setiap penulis? Bagaimana pula bisa menerapkan prinsip asbun ini dalam menulis yang serius? Siapa pula yang bisa menerima asbun sebagai suatu proses menulis yang harus dilalui oleh seorang penulis pemula atau seorang penulis beneran? Apakah asbun ini bisa membuat orang kreatif dan inovatis dalam menulis? Bisakah itu semua terjadi? Apakah menulis asbun dapat membuat seseorang mengeluarkan pendapatnya seperti itu? Atau apakah ini hanya memang omong kosong belaka? Sekedar mengisi waktu agar kita terbiasa menulis? Apakah dengan menulis asal bunyi ini membuat kita lebih cepat belajar menulis dibandingkan dengan orang yang belajar menulis bukan asal bunyi? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang akan muncul dibenak pikiran orang atau penulis pemula, bagaimana mungkin menulis asal bunyi dapat membantu mereka dalam membiasakan menulis.
Menulis asbun atau menulis asal bunyi pada prinsipnya adalah suatu proses menulis yang memfokuskan pada penciptaan kata-kata sebanyak-banyaknya dalam menulis. Penulisan asbun ini tidak perlu memikirkan tatabahasa dan tata kaedah bahasa yang dibutuhkan sebagaimana dalam menulis yang sebenarnya. Penulisan asal bunyi adalah penting dalam rangka membuat kita lebih cepat menghasilkan kata-kata dari pemikiran kita tanpa memikirkan apa itu yang keluar. Kata-kata akan meluncur dengan otomatis dalam pikiran dan langsung disambut oleh tangan kita dengan menuliskannya. Pelatihan dengan komputer sangat membantu proses ini. Penulisan asal bunyi juga mampu membuat seseorang bebas berkreasi dan berinovasi dengan hasil tulisannya. Seseorang akan mampu dengan mudah mengekspresikan dirinya di atas kertas menyampaikan apa saja yang berada dibenaknya tanpa harus takut kalau-kalau tulisannya itu nanti tidak berguna dan tidak akan dibaca orang. Bullshit. Omong kosong. Jangan pikirkan dulu bahwa tulisan kita ini akan dibaca dengan sempurna oleh pembaca. Jangkan pikirkan dulu bahwa sipembaca akan menilai anda sebagai penulis murahan. Jangan pula merasa takut kalau ada kritikan dari mereka, sipembaca dan sipenulis profesional, bahwa tulisan kita adalah sampah. Jangan pula merasa tersinggung dan minder jika tulisan asal bunyi itu membuat orang merasa bosan dan muak dengannya. Cukup katakan saja bahwa tulisan asal bunyi ini diperuntukan untuk diri kita sendiri pula. Jika ada yang membaca tulisan kita, katakan saja bahwa setiap orang boleh membaca tulisan kita tetapi jangan ada kritikan. Katakan saja bahwa menulis tanpa memikirkan apa-apa adalah proses penggalian ide yang maha dahsyat. Tidak ada satupun yang menghalangi kita dalam menulis. Tidak ada lagi penghambat dari dalam diri kita sendiri yang menyebabkan kita terhenti untuk menulis.
Penulis asal bunyi lebih merdeka dalam menyampaikan idenya. Penulis asbun mampu menciptakan banyak ide liar ke atas kertas. Ia tidak hanya bisa membuat tulisan lebih panjang, tetapi ia juga mampu menciptakan pendapat-pendapat bermanfaat. Memang, tidak semua orang menyetujui penulis asal bunyi. Namun, bagi anda pemula, cobalah menulis dengan tidak memikirkan baik buruknya tulisan anda. Mulailah menulis seperti apa yang ada dalam pikiran kamu. Tulislah apa saja dulu. Tulis. Tulis. Tulis. Hanya itu yang menjadi moto kita. Buruk atau baiknya tulisan kita, jangan perdulikan. Tidak perlu juga dipikirkan jika tulisan anda dikomentari oleh orang lain.
Dalam latihan menulis asal bunyi, penulis harus menentukan berapa kata yang harus ia ciptakan dan keluarkan selama proses menulis. Misalnya, untuk satu kali proses pelatihan menulis asal bunyi kita menargetkan ada 1000 kata yang mesti kita ciptakan. Bahkan, kita juga memutuskan berapa lama waktu yang kita butuhkan selama satu kali menulis asbun ini. Saya biasanya menghabiskan waktu saya selama satu jam. Non stop tanpa berhenti menulis. Jika tadi saya menulis mulai jam tujuh pagi maka saya harus menyelesaikan tulisan ini jam sembilan nantinya. Penetapan jumlah kata dan jumlah waktu yang digunakan untuk latihan ini bisa memfokuskan kita agar cepat menulis dan terfokus pada penulisan saja. Mau coba? Silahkan saja. Nanti lihat sendiri apa yang terjadi. Setidaknya anda akan berseru sendiri bahwa kita dapat menciptakan kta-kata. Bisa jadi kita menciptakan kata-kata melebihi dari jumlahkata yang ditargetkan.
Menulis asal bunyi banyak dilakukan dan dipraktekkan oleh penulis-penulis terkenal. James William, seorang penulis jenius ditahun sembilan puluhan, tepatnya 1992, melatih dirinya dengan menulis asbun. Randy Mc. Laren, juga sebelum menjadi penulis terkenal mengatakan bahwa menulis untuk mengeluarkan kata-kata memang sangat dibutuhkan dalam rangka menghancurkan kebekuan dalam pemikiran. Menulis asbun bisa juga membantu kita untuk mengeluarkan semua unek-unek atau pemikiran-pemikiran sampah yang muncul liar saat kita menulis. Jika semua kata-kata dan pemikiran itu sudah bisa dikeluarkan dan disingkirkan, maka pemikiran yang murni akan menjadi sisanya. Artinya pemikiran fokus yang tersisa. Sehingga, kita tidak perlu lagi memikirkan dengan kuat apa yang akan ditulis selanjutnya.
Bagaimana kalau banyak pemikiran muncul saat menulis?
Hampir semua penulis ketika memulai menulis harus menyingkirkan dulu apa yang akan menghalanginya dalam menulis. Disinilah fungsinya menulis asbun tersebut. Pada saat akan menulis, kita banyak dihadapkan dengan cobaan-cobaan yang menjadi penghalang kita dalam menulis. Pada saat menulis, pemikiran kita dipenuhi dengan pikiran lain atau gangguan ekternal lainnya. Dalam menulis, bisa saja kita teringat yang lain yang tidak ada hubungannya dengan fokus pembahasan. Bisa saja, kita teringat dengan teman-teman kita yang sedang menunggu di pasar. Kita teringat dengan tugas-tugas sekolah yang belum siap sementara sebentar lagi harus diserahkan. Bisa saja kita teringat dengan pakaian-pakaian kita belum dicuci, atau belum digosok/disetrika. Bisa jadi kita teringat dengan hewan piaraan kita, seperti kucing si Manis, yang belum diberi makan dan minum sementara sudah waktunya. Bisa jadi kita terpikir dengan buku tulis yang belum dibungkus. Dan apa saja akan muncul dalam benak kita saat sedang menulis. Apakah itu harus kita singkirkan terlebih dahulu? atau kita biarkan saja dia menggerogoti pikiran kita dari tahap awal menulis hingga pada proses akhir kita menulis? Bahkan faktor luarpun sering menghalangi kita untuk berhenti menulis, meskipun itu hanya beberapa saat. Misalnya, saat kita menulis, anak kita sibungsu yang berusia 2 tahun, mulai belajar berjalan cepat, menubruk punggung kita dan memangku kita. Kita terpaksa harus berhenti dulu sejenak menulis dan menyediakan waktu beberapa waktu untuk memeluk anak kita dan menyayanginya. Halangan lain seperti panggilan dari istri yang mengajak kita berbicara. Bahkan kita harus ikut menanggapi pembicaraannya. Adalagi halangan dari bunyi-bunyian keras dan lunak yang terdengar oleh kita saat menulis. Bagi sebagian orang bunyi-bunyi seperti itu mengganggu konsentrasinya dalam menulis. Jika semua ini terjadi pada diri kita, apakah kita harus berhenti menulis? Apakah kita harus membiarkan terlebih dahulu semua halangan itu lewat dipikiran kita? Apakah kita mengatakan bahwa tulisan kita tidak bisa banyak? Hanya beberapa puluh kata, lalu berhenti menulis, dan mengatakan saya akan menulis lagi kalau tidak ada lagi halangan. Saya akan menulis kembali jika anak-anak sudah tidur. Dan saya akan menulis kembali jika bunyi klakson mobil tidak kedengaran lagi, Saya mengulang kembali latihan menulis jika semua sudah sunyi. Mungkinkah semua ini bisa terjadi? Mungkinkah gangguan itu hilang? Mungkinkah bunyi-bunyian itu hilang dan berhenti? Kalaupun itu bisa terjadi, biasanya kita menulis ditengah malam sunyi. Menunggu orang lain tidur terlebih dahulu dan jalan raya sudah kosong oleh kendaraan-kendaraan bermotor. Dan, pintu kamar kita kunci rapat. Telinga disumbat dengan headphone, sehingga tidak ada yang mengganggu konsentrasi kita waktu menulis.
Namun demikian, tantangan-tantangan dalam menulis atau saat sedang menulis seperti di atas harus disingkirkan tanpa menunggu semua kondisi sunyi dan tidak bergerak. Disinilah letaknya kepiawaian penulis asbun. Penulis asbun mampu menyingkiran semua kendala yang menggangu pikirannya saat menulis. Penulis asbun mampu berkonsentrasi penuh dalam kondisi riuk pikuk dan gundah gulana. Bahkan ada penulis asbun yang mampu menggunakan kesempatan ricuh ini sebagai ajang menulis. Kita tahu bahwa penulis asbun bertugas untuk menyingkirkan semua gangguan-gangguan pikiran yang sering muncul saat kita menulis. Penulis asbun mampu menyingkirkan satu-pertasu gangguan-ganguani itu dengan cara menuliskan gangguan itu di atas kertasnya. Dia menuliskan di kertas bahwa dia mendengar suara mobil yang bising. Dia mendengar klakson motor yang lengking. Dia mendengar anak kecil tetangga sedang menangis keras karena ditinggal oleh ayahnya yang akan pergi ke kantor. Dia, penulis asbun, mendengar suara tivi yang terlalu keras dari kamar anaknya. Dia teringat dengan itik-itik piaraannya yang belum diberi makan. Dia juga teringat bahwa dia harus pergi pagi ini ke bank untuk mengurus banknya yang telah lama tidak aktif dan mengaktifkan kembali ATM Banking. Dia juga ingat bahwa ia harus mengganti baterai dan keyboard notebuknya yang sudah lama tidak diperbaiki. Waduuh.. banyak sakil muncul dalam pikiran kita dalam menulis. Bagi penulis asbun, semua ini dituliskannya dalam sebuah kertas atau di atas kertas usang sebagai tulisan sampah. Mengapa bisa dikatakan tulisan sampah? Pada saat kita menulis sebuah topik yang idenya muncul tentang hal lain, maka pada saat itu, ide-ide yang tidak mendukung itu saya istilahkan ide sampah.
Lalu, apakah ide sampah itu harus kita campur adukkan dengan tulisan kita? Tidakkah ini dapat mengacaukan pikiran kita sehingga keluar dari topik pembahasan? Jawaban kedua pertanyaan ini tentu mengacaukan pikiran kita. Sehingga kita tidak fokus dalam membahas suatu topik. Dan, bagaimanakah caranya agar kita tetap kembali fokus dengan pembahasan? Mudah sekali. Menurut saya, sesuai dengan pengalaman saya bahwa kita harus menyediakan sebuah kertas buku kedua di samping kita. Buku kedua ini adalah terpisah dengan buku yang kita gunakan untuk membahas topik. Jika pemikiran kita melayang, teringat akan sesuatu, mendengar bunyi-bunyiaan, dan mendengar suara gaduh dari luar, maka tuliskanlah kondisi-kondisi penghalang itu, semuanya, dibuku kedua yang berada disamping kita. Tuliskan semuanya. Loh, tidakkah ini mengganggu kita dalam menulis. Tentu saja. Tetapi yakinlah. Itu terjadi hanyak sesaat. Ketika semua yang mengganggu pemikiran kita kita tuliskan di atas kertas, maka pemikiran yang tersisa lagi adalah pokok diskusi saja. Jika ini terjadi, maka lanjutkan pembahasan kita pada buku pertama. Memang ini semua terjadi kepada penulis pemula. Kita harus melalui tahap ini jika ingin belajar bagaimana cara menyampaikan ide kita dengan baik. Benar bukan?
Ide-ide liar banyak gentayangan saat kita mulai menulis. Ini dapat menggangu konsentrasi kita. Tetapi kondisi ini juga membantu kita dalam mencari topik pembahasan yang sesuai dengan selera kita. Kita harus mengadakan penggalian ide dari ide-ide liar itu. Entah mengapa, semua ide itu muncul dan muncul lagi dalam pikiran kita saat kita telah memutuhkan satu pokok pikiran saja. Walaupun demikian, kita tentu tidak mungkin harus tidak fokus. Bagaimana caranya agar ide-ide liar itu bisa dikelola dengan baik? Bagaimana ide-ide liar itu bisa dimanfaatkan menghasilkan suatu ide kreatif dan inofativ? Pemikiran seperti ini membuat kita lebih kaya dengan berbagai gagasan. Semua ini akan muncul jika kita memulai menulis asbun.
Demikianlah pendapat dan argumen saya tentang menulis asal bunyi (asbun). Menulis asbun adalah sangat penting dalam penggalian ide dan pelatihan keterampilan. Sipenulis asbun bisa menjadi penulis kreatif dan inovatif karena dia bebas mengeluarkan semua ideanya, sehingga itu memungkin akan muncul ide baru. Penulis asbun bisa menciptakan banyak kata atau tulisan sekali duduk saja. Dia bisa membuat satu artikel sambil duduk tanpa harus bersusah payah menggali ide-ide dari luar. Penulis asbun pun merasakan bahwa menulis itu tidaklah susah. Dia bisa menari-narikan jemarinya di atas keyboard sambil menstransfer ide-idenya dalam dokumen wordnya. Penulis asbun merasa bebas dan kreatif. Penulis asbun merasa dirinya lebih gembira tanpa ada halangan. Jika anda setuju dengan argumen saya, mulailah melatih diri menulis asbun. Biarkan semua ide kita mengalir seperti air mengalir. Dan, jika ada pertanyaan, atau komentar dari pembaca, tuliskanlah dalam kotak komentar yang berada di bawah tulisan ini. Semoga bermanfaat. Terima kasih.
Menulis asbun atau menulis asal bunyi pada prinsipnya adalah suatu proses menulis yang memfokuskan pada penciptaan kata-kata sebanyak-banyaknya dalam menulis. Penulisan asbun ini tidak perlu memikirkan tatabahasa dan tata kaedah bahasa yang dibutuhkan sebagaimana dalam menulis yang sebenarnya. Penulisan asal bunyi adalah penting dalam rangka membuat kita lebih cepat menghasilkan kata-kata dari pemikiran kita tanpa memikirkan apa itu yang keluar. Kata-kata akan meluncur dengan otomatis dalam pikiran dan langsung disambut oleh tangan kita dengan menuliskannya. Pelatihan dengan komputer sangat membantu proses ini. Penulisan asal bunyi juga mampu membuat seseorang bebas berkreasi dan berinovasi dengan hasil tulisannya. Seseorang akan mampu dengan mudah mengekspresikan dirinya di atas kertas menyampaikan apa saja yang berada dibenaknya tanpa harus takut kalau-kalau tulisannya itu nanti tidak berguna dan tidak akan dibaca orang. Bullshit. Omong kosong. Jangan pikirkan dulu bahwa tulisan kita ini akan dibaca dengan sempurna oleh pembaca. Jangkan pikirkan dulu bahwa sipembaca akan menilai anda sebagai penulis murahan. Jangan pula merasa takut kalau ada kritikan dari mereka, sipembaca dan sipenulis profesional, bahwa tulisan kita adalah sampah. Jangan pula merasa tersinggung dan minder jika tulisan asal bunyi itu membuat orang merasa bosan dan muak dengannya. Cukup katakan saja bahwa tulisan asal bunyi ini diperuntukan untuk diri kita sendiri pula. Jika ada yang membaca tulisan kita, katakan saja bahwa setiap orang boleh membaca tulisan kita tetapi jangan ada kritikan. Katakan saja bahwa menulis tanpa memikirkan apa-apa adalah proses penggalian ide yang maha dahsyat. Tidak ada satupun yang menghalangi kita dalam menulis. Tidak ada lagi penghambat dari dalam diri kita sendiri yang menyebabkan kita terhenti untuk menulis.
Penulis asal bunyi lebih merdeka dalam menyampaikan idenya. Penulis asbun mampu menciptakan banyak ide liar ke atas kertas. Ia tidak hanya bisa membuat tulisan lebih panjang, tetapi ia juga mampu menciptakan pendapat-pendapat bermanfaat. Memang, tidak semua orang menyetujui penulis asal bunyi. Namun, bagi anda pemula, cobalah menulis dengan tidak memikirkan baik buruknya tulisan anda. Mulailah menulis seperti apa yang ada dalam pikiran kamu. Tulislah apa saja dulu. Tulis. Tulis. Tulis. Hanya itu yang menjadi moto kita. Buruk atau baiknya tulisan kita, jangan perdulikan. Tidak perlu juga dipikirkan jika tulisan anda dikomentari oleh orang lain.
Dalam latihan menulis asal bunyi, penulis harus menentukan berapa kata yang harus ia ciptakan dan keluarkan selama proses menulis. Misalnya, untuk satu kali proses pelatihan menulis asal bunyi kita menargetkan ada 1000 kata yang mesti kita ciptakan. Bahkan, kita juga memutuskan berapa lama waktu yang kita butuhkan selama satu kali menulis asbun ini. Saya biasanya menghabiskan waktu saya selama satu jam. Non stop tanpa berhenti menulis. Jika tadi saya menulis mulai jam tujuh pagi maka saya harus menyelesaikan tulisan ini jam sembilan nantinya. Penetapan jumlah kata dan jumlah waktu yang digunakan untuk latihan ini bisa memfokuskan kita agar cepat menulis dan terfokus pada penulisan saja. Mau coba? Silahkan saja. Nanti lihat sendiri apa yang terjadi. Setidaknya anda akan berseru sendiri bahwa kita dapat menciptakan kta-kata. Bisa jadi kita menciptakan kata-kata melebihi dari jumlahkata yang ditargetkan.
Menulis asal bunyi banyak dilakukan dan dipraktekkan oleh penulis-penulis terkenal. James William, seorang penulis jenius ditahun sembilan puluhan, tepatnya 1992, melatih dirinya dengan menulis asbun. Randy Mc. Laren, juga sebelum menjadi penulis terkenal mengatakan bahwa menulis untuk mengeluarkan kata-kata memang sangat dibutuhkan dalam rangka menghancurkan kebekuan dalam pemikiran. Menulis asbun bisa juga membantu kita untuk mengeluarkan semua unek-unek atau pemikiran-pemikiran sampah yang muncul liar saat kita menulis. Jika semua kata-kata dan pemikiran itu sudah bisa dikeluarkan dan disingkirkan, maka pemikiran yang murni akan menjadi sisanya. Artinya pemikiran fokus yang tersisa. Sehingga, kita tidak perlu lagi memikirkan dengan kuat apa yang akan ditulis selanjutnya.
Bagaimana kalau banyak pemikiran muncul saat menulis?
Hampir semua penulis ketika memulai menulis harus menyingkirkan dulu apa yang akan menghalanginya dalam menulis. Disinilah fungsinya menulis asbun tersebut. Pada saat akan menulis, kita banyak dihadapkan dengan cobaan-cobaan yang menjadi penghalang kita dalam menulis. Pada saat menulis, pemikiran kita dipenuhi dengan pikiran lain atau gangguan ekternal lainnya. Dalam menulis, bisa saja kita teringat yang lain yang tidak ada hubungannya dengan fokus pembahasan. Bisa saja, kita teringat dengan teman-teman kita yang sedang menunggu di pasar. Kita teringat dengan tugas-tugas sekolah yang belum siap sementara sebentar lagi harus diserahkan. Bisa saja kita teringat dengan pakaian-pakaian kita belum dicuci, atau belum digosok/disetrika. Bisa jadi kita teringat dengan hewan piaraan kita, seperti kucing si Manis, yang belum diberi makan dan minum sementara sudah waktunya. Bisa jadi kita terpikir dengan buku tulis yang belum dibungkus. Dan apa saja akan muncul dalam benak kita saat sedang menulis. Apakah itu harus kita singkirkan terlebih dahulu? atau kita biarkan saja dia menggerogoti pikiran kita dari tahap awal menulis hingga pada proses akhir kita menulis? Bahkan faktor luarpun sering menghalangi kita untuk berhenti menulis, meskipun itu hanya beberapa saat. Misalnya, saat kita menulis, anak kita sibungsu yang berusia 2 tahun, mulai belajar berjalan cepat, menubruk punggung kita dan memangku kita. Kita terpaksa harus berhenti dulu sejenak menulis dan menyediakan waktu beberapa waktu untuk memeluk anak kita dan menyayanginya. Halangan lain seperti panggilan dari istri yang mengajak kita berbicara. Bahkan kita harus ikut menanggapi pembicaraannya. Adalagi halangan dari bunyi-bunyian keras dan lunak yang terdengar oleh kita saat menulis. Bagi sebagian orang bunyi-bunyi seperti itu mengganggu konsentrasinya dalam menulis. Jika semua ini terjadi pada diri kita, apakah kita harus berhenti menulis? Apakah kita harus membiarkan terlebih dahulu semua halangan itu lewat dipikiran kita? Apakah kita mengatakan bahwa tulisan kita tidak bisa banyak? Hanya beberapa puluh kata, lalu berhenti menulis, dan mengatakan saya akan menulis lagi kalau tidak ada lagi halangan. Saya akan menulis kembali jika anak-anak sudah tidur. Dan saya akan menulis kembali jika bunyi klakson mobil tidak kedengaran lagi, Saya mengulang kembali latihan menulis jika semua sudah sunyi. Mungkinkah semua ini bisa terjadi? Mungkinkah gangguan itu hilang? Mungkinkah bunyi-bunyian itu hilang dan berhenti? Kalaupun itu bisa terjadi, biasanya kita menulis ditengah malam sunyi. Menunggu orang lain tidur terlebih dahulu dan jalan raya sudah kosong oleh kendaraan-kendaraan bermotor. Dan, pintu kamar kita kunci rapat. Telinga disumbat dengan headphone, sehingga tidak ada yang mengganggu konsentrasi kita waktu menulis.
Namun demikian, tantangan-tantangan dalam menulis atau saat sedang menulis seperti di atas harus disingkirkan tanpa menunggu semua kondisi sunyi dan tidak bergerak. Disinilah letaknya kepiawaian penulis asbun. Penulis asbun mampu menyingkiran semua kendala yang menggangu pikirannya saat menulis. Penulis asbun mampu berkonsentrasi penuh dalam kondisi riuk pikuk dan gundah gulana. Bahkan ada penulis asbun yang mampu menggunakan kesempatan ricuh ini sebagai ajang menulis. Kita tahu bahwa penulis asbun bertugas untuk menyingkirkan semua gangguan-gangguan pikiran yang sering muncul saat kita menulis. Penulis asbun mampu menyingkirkan satu-pertasu gangguan-ganguani itu dengan cara menuliskan gangguan itu di atas kertasnya. Dia menuliskan di kertas bahwa dia mendengar suara mobil yang bising. Dia mendengar klakson motor yang lengking. Dia mendengar anak kecil tetangga sedang menangis keras karena ditinggal oleh ayahnya yang akan pergi ke kantor. Dia, penulis asbun, mendengar suara tivi yang terlalu keras dari kamar anaknya. Dia teringat dengan itik-itik piaraannya yang belum diberi makan. Dia juga teringat bahwa dia harus pergi pagi ini ke bank untuk mengurus banknya yang telah lama tidak aktif dan mengaktifkan kembali ATM Banking. Dia juga ingat bahwa ia harus mengganti baterai dan keyboard notebuknya yang sudah lama tidak diperbaiki. Waduuh.. banyak sakil muncul dalam pikiran kita dalam menulis. Bagi penulis asbun, semua ini dituliskannya dalam sebuah kertas atau di atas kertas usang sebagai tulisan sampah. Mengapa bisa dikatakan tulisan sampah? Pada saat kita menulis sebuah topik yang idenya muncul tentang hal lain, maka pada saat itu, ide-ide yang tidak mendukung itu saya istilahkan ide sampah.
Lalu, apakah ide sampah itu harus kita campur adukkan dengan tulisan kita? Tidakkah ini dapat mengacaukan pikiran kita sehingga keluar dari topik pembahasan? Jawaban kedua pertanyaan ini tentu mengacaukan pikiran kita. Sehingga kita tidak fokus dalam membahas suatu topik. Dan, bagaimanakah caranya agar kita tetap kembali fokus dengan pembahasan? Mudah sekali. Menurut saya, sesuai dengan pengalaman saya bahwa kita harus menyediakan sebuah kertas buku kedua di samping kita. Buku kedua ini adalah terpisah dengan buku yang kita gunakan untuk membahas topik. Jika pemikiran kita melayang, teringat akan sesuatu, mendengar bunyi-bunyiaan, dan mendengar suara gaduh dari luar, maka tuliskanlah kondisi-kondisi penghalang itu, semuanya, dibuku kedua yang berada disamping kita. Tuliskan semuanya. Loh, tidakkah ini mengganggu kita dalam menulis. Tentu saja. Tetapi yakinlah. Itu terjadi hanyak sesaat. Ketika semua yang mengganggu pemikiran kita kita tuliskan di atas kertas, maka pemikiran yang tersisa lagi adalah pokok diskusi saja. Jika ini terjadi, maka lanjutkan pembahasan kita pada buku pertama. Memang ini semua terjadi kepada penulis pemula. Kita harus melalui tahap ini jika ingin belajar bagaimana cara menyampaikan ide kita dengan baik. Benar bukan?
Ide-ide liar banyak gentayangan saat kita mulai menulis. Ini dapat menggangu konsentrasi kita. Tetapi kondisi ini juga membantu kita dalam mencari topik pembahasan yang sesuai dengan selera kita. Kita harus mengadakan penggalian ide dari ide-ide liar itu. Entah mengapa, semua ide itu muncul dan muncul lagi dalam pikiran kita saat kita telah memutuhkan satu pokok pikiran saja. Walaupun demikian, kita tentu tidak mungkin harus tidak fokus. Bagaimana caranya agar ide-ide liar itu bisa dikelola dengan baik? Bagaimana ide-ide liar itu bisa dimanfaatkan menghasilkan suatu ide kreatif dan inofativ? Pemikiran seperti ini membuat kita lebih kaya dengan berbagai gagasan. Semua ini akan muncul jika kita memulai menulis asbun.
Demikianlah pendapat dan argumen saya tentang menulis asal bunyi (asbun). Menulis asbun adalah sangat penting dalam penggalian ide dan pelatihan keterampilan. Sipenulis asbun bisa menjadi penulis kreatif dan inovatif karena dia bebas mengeluarkan semua ideanya, sehingga itu memungkin akan muncul ide baru. Penulis asbun bisa menciptakan banyak kata atau tulisan sekali duduk saja. Dia bisa membuat satu artikel sambil duduk tanpa harus bersusah payah menggali ide-ide dari luar. Penulis asbun pun merasakan bahwa menulis itu tidaklah susah. Dia bisa menari-narikan jemarinya di atas keyboard sambil menstransfer ide-idenya dalam dokumen wordnya. Penulis asbun merasa bebas dan kreatif. Penulis asbun merasa dirinya lebih gembira tanpa ada halangan. Jika anda setuju dengan argumen saya, mulailah melatih diri menulis asbun. Biarkan semua ide kita mengalir seperti air mengalir. Dan, jika ada pertanyaan, atau komentar dari pembaca, tuliskanlah dalam kotak komentar yang berada di bawah tulisan ini. Semoga bermanfaat. Terima kasih.
Subscribe to:
Posts (Atom)