Post Power Syndrom secara bebas diinterpretasikan sebagai suatu gejala (syndrom) penyakit yang timbul pada seseorang dikarenakan kewewenangan atau kekuasaan (power) orang itu habis atau hilang dimasa akhir (post) jabatannya. Artinya kekuasaan dan wewenang dia habis dan tidak diakui lagi setelah dia dinyatakan sudah pensiun. Akibat dari hilangnya kekuasaan ini menimbulkan gejalan-gejala penyakit bagi sebahagian orang yang tidak memiliki persiapan menjelang masa pensiun kerjanya (MPPS).
Mengapa Post Power Syndrom bisa terjadi?
Pekerjaan yang dilakukan secara terus menerus dan teratur dan terjadwal selama bertahun-tahun akan membentuk suatu sistem pada jaringan tubuh seseorang. Pekerjaan menahun yang tertata ini membentuk sistem yang kuat pada jaringan tubuh sehingga sistem tubuh memaksa otak dan pikiran bekerja sesuai dengan irama pekerjaan rutin itu. Kebiasaan bangun pagi jam empat tiga puluh sebelum waktu sholat subuh yang terbentuk semenjak kecil hingga dewasa telah membentuk sistem pada jaringan tubuh kita untuk tetap bangun bagi pada jam yang sama. Meskipun, misalnya, kita begadang dan tidak tidur sampai jam tiga pagi dini hari, namun kita akan tetap bangun pagi pada jam empat tiga puluh sebelum waktu sholat subuh. Seorang guru PNS yang terbiasa berangkat ke sekolah atau keluar dari rumahnya untuk berangkat ke sekolah pada jam enam setiap paginya akan membentuk jaringan tubuhnya menjadi suatu kebiasaan rutin untuk berangkat kesekolah pada jam yang sama. Kebiasaan berangkat pagi kesekolah yang dilakukan bertahun-tahun ini, bahkan dilakukan sampai masa pensiun umur 60 tahun, telah mematri tubuh kita agar melakukan kegiatan itu dibawah alam sadar kita. Jika kebiasaan ini pernah terhenti atau terpaksa dihentikan, misalnya karena ada waktu cuti selama seminggu, liburan panjang atau cuti tahunan selama tiga puluh hari, maka sistem tubuh kita akan terganggu dengan adanya jeda libur yang cukup lama ini. Kebiasaan yang tersistem ditubuh akan memberontak mengapa ini terhenti. Kerutinan ini memaksa tubuh agar melakukan dan memaksa mengerjakan hal yang sama seperti biasanya dikerjakan. Akibatnya adalah kita akan merasa resah dan gelisah untuk harus kembali bekerja kembali. Kebiasaan bangun pagi sebelum subuh tetap terjadi dibawah alam sadar kita. Kita sudah bangun jam empat tiga puluh, mandi pagi, gosok gigi, berwuduk untuk sholat, dan membaca alquran menunggu datang waktu sholat subuh. Dan setelah sholat subuh, kita pergi ke kamar ganti pakaian, mengenakan pakaian dinas kantor, memakai sepatu, berdasi, pakai badge nama tergantung di kemeja di atas dada sebelah kanan kita, memasukkan pena emas atau kacamata ke dalam saku baju. Kebiasaaan-kebiasaan lain seperti minum air putih atau air teh manis, makan nasi atau sarapan pagi secukupnya tetap dilakukan dibawah alam sadar kita, tanpa diatur. Sekarang sampailah jam dinding menunjukkan jam enam yang berarti kita harus pergi bekerja. Tetapi....stop... apa yang terjadi? Ternyata kita masih dalam suasana masa libur, suasana masa cuti panjang sebulan. Masa cuti libur baru tiga hari. Waduh.. Bagaimana mana ini? Pakaian seragam dinas sudah dipakai. Sholat sudah. Sarapan sudah. Anak-anak juga terkejut dan bertanya. "Papa? Papa kan cuti sekarang, kenapa papa harus pergi ke kantor lagi? Ayo Papa kita jalan-jalan ke pantai!" Ah? Oh iya. Benar. Papa sekarang lagi libur. Papa lupa. Baiklah kita pergi ke pantai jalan-jalan.
Akhirnya kita dengan perasaan malu harus menanggalkan kembali pakaian dinas dan sepatu kantor yang mengkilat tadi. Kita barus sadar bahwa kita dalam situasi cuti panjang.
Pada bahagian lain, kebiasaan kita mengelola suatu lembaga, organisasi, sekolah, atau kantor apalah namanya membentuk sistem pada jaringan tubuh kita untuk tetap melakukan kebiasaan mengelola itu. Kegiatan mendelegasikan tugas, kebiasaan memerintah bawahan, kebiasaan marah ketiga target pekerjaan tidak tercapai oleh staf, kebiasaan makan siang di hotel itu, kebiasaan disediakan kopi panas di atas meja kerja, kebiasaan mengisi daftar absen di mesin absen di dinding, kebiasaan menyapa bawahan dengan kata hello, hai John gimana khabarnya? Kebiasaan menelpon kolega dan kawan bisnis lainnya, kebiasaan diingatkan sekretaris setia akan pekerjaan yang akan dikerjakan hari ini, kebiasaan diantar sopir kantor kemana kita suka, kebiasaan pergi ke bank mengambil uang, kebiasaan meeting atau briefing dengan staf, kebiasaan menemui duta asing di kantor utama, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya yang selalu kita kerjakan setiap waktu, setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, dengan waktu yang tetap, jadwal ketat, dan ruang kerja yang sama adalah suatu sistem yang sudah terbentuk begitu kuatnya pada pikiran dan alam bawah sadar kita. Sehingganya kita tidak perlu lagi memikirkan ini dan itunya yang harus dikerjakan. Semua sudah terbentuk dengan sistem yang rigin malah.
Nah, apa yang terjadi, jika semua kebiasaan itu terhenti ketika masa kerja dan masa wewenang kita memanggu jabatan itu hilang atau habis atau dicopot dikarenakan masa pensiun kita telah tiba? Apa yang terjadi jika kita tidak lagi mengerjakan kebiasaan rutin ini? Apakah yang terjadi pada sistem tubuh kita yang selama ini sudah terbentuk dan harus melakukan kebiasaan itu seperti kebiasaan rutin makan dan minum setiap hari? Adakah pengaruhnya ketika kebiasaan ini terpaksa harus dihentikan karena masa pensiun kita sudah tiba? Apakah kebiasaan kita itu bisa menyesuaikan diri dengan cepat ketika kita tidak bekerja lagi?
Ketika saya masih di SMA tahun 1989, saya pernah belajar tentang gerak bahwa ia mengatakan suatu benda yang bergerak, ia cenderung untuk bergerak. Sebuah mobil yang berlari kencang, mobil itu cenderung untuk tetap berlari. Jika kita terpaksa untuk mengeremnya secara mendadak, mungkin dikarenakan ada anjing yang lewat mendadak di jalan, mobil yang kita rem itu tetap cenderung untuk bergerak. Terbukti dengan bunyi gesekan ban dengan aspal bergitu keras. Mencicit keras. Bahkan ada ban mobil yang sampai meletus karena gesekan yang kencang dengan aspal itu. Gesekan ini menunjukkan bahwa mobil itu cenderung ingin terus bergerak dan bergerak.
Hal yang serupa juga bisa terjadi kepada mereka yang terbiasa bergerak terus bekerja, mengelola pekerjaannya. Ketika kebiasaan mereka dihentikan, maka banyak hal yang akan bisa terjadi. Pertama, sistem tubuh memaksa diri mereka untuk tetap bekerja. Pikiran alam bawah sadar mereka memaksa diri mereka untuk tetap bergerak dan bekerja. Akibatnya, pensiunan ini tetap memakai pakaian dinasnya, pergi ke tempat kerja, menyapa stafnya, memanggil sopir dinasnya yang tampak sudah enggan, mendekati meja kerjanya yang sudah diisi oleh manajer lain. Pada akhirnya, pensiunan ini merasa stress melihat kenyataan yang dialaminya. Meja kerja yang selama ini ditempatinya sudah milik orang lain, sekretarisnya yang dulu mau disuruh mengerjakan ini dan itu, sekarang sudah patuh kepada majikan barunya. Sang sopir pribadi kantornya hanya sekedar menyapanya dengan wajah terkejut " selama pagi pak" Bagaimana pensiunannya pak? Dimana liburannya? Ah pertanyaan ini benar-benar menyudutkan pensiunan ini. Apalagi pakaian dinas yang ia kenakan disaat dia sudah pensiun.
Perasaan hiba hati telah muncul. Sebelum pensiun, semua orang menghormati dan menghargainya. Setelah pensiun tidak ada yang staf yang menghormati dan menghargainya. Mungkin saja dikarenakan mereka harus bekerja dan tidak punya banyak waktu ngobrol dengan dia. Sebelum pensiun, semua staf kantornya harus cepat datang dan bekerja serius dan takut dimarahi olehnya, sekarang, setelah pensiun, tidak seorangpun staf kantornya yang peduli dengan apa yang pensiunan ini katakan. Semua sudah berubah seratus persen. Dunianya sudah terbalik. Tidak ada lagi orang yang perduli kepadanya. Untung-untung pensiunan ini dihibur oleh teman-teman baiknya sekiranya dia berbuat baik sewaktu dia masih menjabat. Kebiasaan yang sudah terbentuk di setiap urat dan saraf tubuhnya memaksa dia untuk harus melakukan kebiasaan itu. Tetapi, apa daya, dia harus pensiun. Dia harus meninggal kebiasaan itu semua.
Apakah yang terjadi dengan sistem tubuhnya?
kebiasaan tubuh yang sudah terbentuk bertahun-tahun akan merasakan suatu perubahan yang luar biasa. Tubuh akan tetap meminta dirinya untuk mengerjakan kebiasaan itu. Terhenti bekerja, berarti tubuh harus terpaksa menyesuaikan dirinya dengan kondisi baru itu. Akibatnya timbullah gesekan batin yang terpaksa harus diterima oleh tubuh. (bersambung).