Sebelum membahas sikap toleransi ini, kita harus terlebih dahulu mendefinisikan sikap toleransi ini. Biar, kamu-kamu tidak gagal paham atau tidak salah faham dengan istilah sikap tolerani. Biar fokus gitu.
Definisi sikap toleransi.
Toleransi secara bahasa berasal dari bahasa latin "tolerate". Toleransi berarti sabar dan menahan diri. Toleransi juga dapat berarti suatu sikap saling menghormati dan menghargai seseorang atau kelompok dalam lingkungan atau dalam masyarakat. Sikap toleransi dapat menghindari terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.
Contoh sikap toleransi secara umum antara lain:
1. Menghargai pendapat mengenai pemikiran orang lain yang berbeda dengan pendapat kita.
2. Saling tolong menolong antar sesama manusia tanpa memandang suku, ras, agama, dan golongan.
Istilah toleransi ini mencakup banyak bidang. Tetapi dalam pembahasan ini, sikap toleransi yang saya maksudkan adalah sikap toleransi siswa di sekolah saja. Jadi pembahasannya sempit. Hanya sikap toleransi yang terjadi selama proses belajar mengajar di sekolah. Semoga tidak gagal paham.
Apakah Siswa mempunyai Sikap toleransi?
Jawaban pertanyaan ini memang tidak bisa dijawab dengan ya atau tidak. Jawabannya perlu dijelaskan dengan beberapa bukti dan penjelasan detil. Sehubungan dengan siapa siswa yang dimaksudkan. Maksud saya adalah jejang di sekolah mana siswa itu berada. Mengapa ini ada hubungannya dengan jenjang sekolahnya? Ya. jenjang sekolah, misalnya SD, SMP, atau SMA sederajat akan menentukan usia siswa-siswa yang duduk di bangku kelas itu. Semakin besar umur siswa tersebut, maka semakin besar kemungkin sikap toleransi itu berada. Tetapi apakah ini bisa menjamin ada kolerasinya antara sikap toleransi siswa dengan usianya? Saya belum bisa menjawab secara ilmiah, karena pembahasan ini belum saya tekuni betul. Kali ini saya membahasnya berdasarkan versi menulis bebas saya. Berdasarkan pengalaman pribadi.
Kata-kata kunci toleransi itu adalah: sabar, menahan diri, menghormati, dan menghargai.
Mari kita lihat sikap toleransi siswa dalam berdiskusi antar mereka. Guru membagi tempat duduk diskusi siswa dalam beberapa kelompok. Misalnya, ada lima orang siswa yang duduk meja diskusi 1, ada lima orang lagi yang duduk di meja diskusi 2, ada yang dimeja diskusi 3, meja 4, dan meja 5. Setelah mereka diarahkan dan dibimbing oleh guru tentang pembahasan topik tertentu, maka guru menunjuk siswa-siswa di meja diskusi 1 untuk berbicara. Ketika perwakilan pembicara meja diskusi 1 berbicara, apakah terjadi toloransi di sana? Apakah siswa-siswa dari kelompok-kelompok meja diskusi lain bersabar menunggu paparan kelompok 1? Apakah siswa kelompok lain mampu menahan diri ketika mendengar paparan kelompok 1 yang salah menurut mereka? Apakah siswa-siswa penanggap itu menghormati pendapat kelompok 1? Apakah mereka menghargai pendapat itu?
Berdasarkan pengamatan saya, rata-rata siswa-siswa dari kelompok penanggap tidak sabaran untuk menanggapi paparan dari kelompok penyaji kelompok satu. Apalagi bila mereka ada paparan yang salah dari pembahasan, siswa penanggap tidak bisa menahan emosinya untuk menunggu sipemapar ide selesai bicara. Siswa penanggap langsung menanggapi bahkan menghalangi juru bicara agar mendengarkan interupsinya. Dengan emosi tinggi, sipenaggap menyatakan bahwa sipemapar tidak benar dalam menyampaikan hasil diskusinya. Bahkan ada pula mereka menyalahkan dan meneriakkan secara bersama bahwa ide itu salah. Kelompok Sipembicara juga langsung membela dan mempertahankan ide diskusi mereka itu. Mereka tidak mampu menahan diri. Mereka tidak lagi mampu menghargai pendapat temannya. Sehingga situasi seperti ini menyebabkan kegaduhan dan keributan dalam diskusi. Apakah kondisi seperti ini bisa dikatakan ada sikap toleransi?
Lalu apa tugas guru di sini? Bisa saja, guru akan menengahi perdebatan diskusi yang tidak ada ujungnya itu. Guru harus dengan tegas mengatakan bahwa dalam berdiskusi, masing-masing kelompok diskusi penanggap haruslah mendengarkan pendapat dari kelompok yang memaparkan ide-idenya. Guru harus menunjukkan kepada guru bahwa mereka harus bersabar menunggu sampai pemaparan itu berhasil. Guru juga harus menyampaikan bahwa siswa-siswa harus menghargai pendapat teman-temannya yang mereka anggap tidak benar. Semua pendapat harus dihargai dan dihormati.
Begitulah kondisi-kondisi diskusi siswa yang sering saya amati di dalam kelas. Masih sedikit sikap toleransi di sana. Biasanya siswa-siswa pintar dan menguasai materi pembahasan sering lepas kendali emosinya. Mengganggu jalannya diskusi, interupsi, menyanggah, ataupun menyalahkan si pemapar, padahal sipembicara ini belum selesai berbicara.
Saya belum bisa mengatakan bahwa ada sepenuhnya sikap toleransi dalam diskusi siswa. Memang disadari, bahwa mereka baru belajar tentang sikap toleransi. Gurulah yang mampu membimbing dan mengajak mereka agar bersikap toleransi: bersabar, menghargai, dan menghormati pendapat orang lain.
Bullying dan Sikap Toleransi.
Mengapa ada bullying dilakkukan oleh beberapa oknum siswa di sekolah? Apakah ada hubungannya dengan sikap toleransi siswa yang menipis? Apakah Siswa yang tidak bersikap toleransi cenderung melakukan bullying?
Diskusi ini rasanya menarik untuk dibahas. Tetapi, saya sediakan waktu saya nanti sore. Harus pergi kerja dulu. Sampai jumpa.