Sunday, December 29, 2019

Empati 2

Kemampuan memahami diri orang lain adalah kemampuan khusus. Tidak semua orang dapat menggunakan empatinya jika orang tersebut tidak mempelajarinya dan tidak melatihkannya. Orang yang empati lebih cepat memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Ia dapat memahami orang itu melalui perkataannya, melalui bahasa tubuhnya, atau melalui ungkapan isi hatinya. Si empaty cepat menempatkan dirinya pada diri orang itu sendiri. Seolah-olah dialah yang merasakan apa yang dirasakan oleh lawan bicaranya. Hanya orang tertentu yang memahaminya.
      Orang yang empati sering diterima kehadirannya dimanapun dia berada. Orang yang empati memiliki jiwa dan karisma yang kuat sehingga orang lain dengan mudah percaya kepadanya. Orang yang empati mampu memperlihatkan kekuatan dirinya untuk menaklukkan kekuatann diri orang lain. Atau setidaknya, keberadaannya itu telah menjadi "sitawa sidingin" atau pembawa keberkahan bagi orang lain. Orang Empati mampu berbicara dengan mereka yang lemah jiwanya. Ia juga mampu berbicara dengan mereka yang kuat jiwanya. Bahkan, ia juga mampu berbicara dan bersahabat dengan orang yang tidak suka kepadanya. Mungkin, orang lain yang tidak suka kepadanya disebabkan oleh banyak hal, seperti sakit hati, merasa direndahkan, atau merasa tersingkir akan keberadaan orang empati. Si empati tahu dan merasakan keberadaan orang-orang seperti itu. Namun, siempati mampu menyelami dan memahami mengapa mereka berbuat dan bertindak. Si empati bahkan bisa mengarahkan jiwa dan pikiran mereka ketempat yang ia inginkan. Itulah pentingnya kita berempati kepada orang lain.
      Perhatikanlah orang empati bagaikan bunglon. Ia mudah larut terhadap suasana yang berada dihadapannya. Misalnya, jika siempati berada di sebuah rumah duka, ibu dari seorang temannya yang meninggal karena sudah tua. Siempati dengan mudah mampu merasakan apa yang sedang dirasakan oleh temanya itu dengan tulus. Dia merasakan kepedihan, kesunyian karena akan ditinggalkan, kesedihan karena ibunya tidak akan kembali lagi kepadanya, sedih karena mengenang segala sesutu yang dia alami dari kecil hingga seumur itu bersama almarhum ibunya. Hebatnya, siempati merasakan ini juga. Dia merasa bahwa keadaan berkabung ini terjadi pada dirinya sendiri. Jika siempati ini wanita, dia bisa menangis berlinang air mata, memeluk teman wanitanya karena tidak tahan dengan kesedihan. Jika siempati ini laki-laki, isak tangis yang ditahannya akan tergambar diwajahnya. Terlihat bulir air mata kecil meluncur disudut matanya. Jatuh kebawah membasahi pipinya. Siempati laki-laki ini akan tertegun dengan rasa sedih dan dukanya mendalam. Ia mampu menghayalkan bahwa situasi duka itu terjadi padanya. Beginilah kira-kira seorang empati dalam memahami diri orang lain. (bersambung)

No comments:

Post a Comment