Sebenarnya apa saja yang akan ditulis? Apakh pokok pikirannya? Apakah topiknya? Apakah judulnya? Bagian apa saja yang akan ditulis? Kejadian apa yang akan ditulis? Apakah menulis tentang agama, politik, seni budaya, bahasa asa, etika, olah raga, wanita, rumah tangga, keamanan, permainan, cinta, perasaan, peralatan, teknologi, pertanian, atau perjudian, atau banyak lagi yang lain? Atau, menulis tentang surat, tentang cinta sejati, tentang hikayat, tentang pahlawan, tentang penulis itu sendiri, teman, orang tua, anak? Atau menulis tentang binatang, binatang piaraan, binatang buas, binatang yang hidup di air, atau yang hidup di darat, atau binatang yang hidup kedua-duanya? Atau apakah kita akan menulis tentang bagaimana melakukan sesuatu hal? Bagaimana cara membuat sebuah kue yang enak, roti bakar yang gurih, pisang sale manis seperti buatan Batusangkar, sala lauak yang enak dari Pariaman, atau banyak yang lain. Mungkin juga kita teringat dengan topik pariwisata di negeri kita. Danau Maninjau, Danau Diatas dan Danau Dibawah, Danau Talang, Bukit Lantiak, Bukit Tengkorak Tambun Tulang, Titian Akar, Lubuak Nyarai, Bukittinggi Tinggi, Gunung Marapi dan Gunung Singgalang, Harau Wisata, Air Tajun Padang Panjang, Pemandian Air Panas Solok, atau Pemandian Tirta Alami di Pariaman. Waw.. Terlalu banyak yang muncul dalam pikiran kita. Baru satu pertanyaan saja yang muncul, yaitu apa yang akan ditulis? Apalagi kalau kita membahas kata-kata atau ide-ide pendukungnnya. Namun demikian, semua ini ditujukan adalah untuk penggalian ide kita agar dalam melatih menulis, kita tidak terfokus kepada hal-hal lama yang mungkin harus kita perbaharui.
Dari sini kita sudah paham sedikit bahwa penggalian ide bebas telah menciptakan penulisan yang bebas dan kreatif. Betapa bebasnya pikiran kita ini, menjalar ke satu gagasan dan menjalar lagi ke gagasan yang lainnya. Multi gagasan. Kita mendapatkan banyak pencerahan pada diri sendiri bahwa penggalian idea adalah suatu kegiatan berpikir penting. Penggalian ide itu dimulai dari pencarian ide bebas yang menerawang dan menyebar bebas dalam benak pikiran kita. Semua gagasan yang terbang tanpa arah itu harus kita tangkap dan kita tuliskan ia dalam bentuk tulisan. Sehingga ide-ide yang melayang tadi tidak lagi bisa melayang, karena mereka sudah kita tancapkan pada tulisan kita.
Apakah masih banyak ide bebas yang melayang dalam pikiran kita? Banyak sekali. Apakah semua itu akan kita tuliskan dalam penggalian ide? Jika mau mengapa tidak? Tuliskan saja semua idea bebas itu. Penggalian ide seperti ini melatih diri kita agar kita tetap menulis. Akan tetapi, jika itu tidak memungkinkan, tidaklah perlu menuliskan semuanya. Cukup kita menggali ide berdasarkan ide pokok yang telah kita tentukan. Jika ide pokok kita membahas tentang olah raga berenang, maka penggalian ide kita fokuskan kepada berenang saja. Agar kita bisa sedikit lebih fokus. Kita satu pikiran kita kepada hal-hal yang berhubungan dengan berenang. Baik tentang bagaimana cara berenang, bagaimana cara menjaga keselamatan selama di air, Bagaimana cara menggunakan kaki dan tangan kita selama berenang, dan bagaimana cara menggerakkan kepala. Ini akan lebih baik dalam hal penggalian ide tentang berenang.
Ada pertanyaan? Tentu ada. Bagaimana kalau ada lagi ide lain yang muncul selain ide tentang berenang? Apa yang harus kita lakukan? Jawabannya adalah tuliskan saja dulu ide yang datang itu ke kertas kita. Tentu, anda akan bertanya lagi. Bukankah itu akan bercampur ide liar itu dengan ide berenang yang sudah kita bahas tadi. Ahh..tidak apa-apa. Jangan mempersulit diri. Tuliskan sajalah. Sekarang ini kita menulis dalam layar dokumen Microsoft Office. Tandai saja tulisan-tulisan bebas yang kita tulis tadi. Beri tanda merah ide-ide yang akan kita buang, atau garis bawahi saja mereka, atau bisa juga dengan menyamarkan mereka dengan warna abu-abu terang. Sehingga kita bisa membedakan antara ide-ide tentang berenang dan ide-ide liar yang muncul saat kita menulis. Terus, Apakah ide-ide liar itu ada gunanya kita tulis saat kita menulis ide yang lain. Tentu ada. Pertama, ide liar itu telah membantu kita untuk menambah jumlah kata yang kita tulis. Kedua, ide liar itu telah membantu kita menghabiskan sisa-sisa ide yang harus kita buang dalam pikiran kita. Ide-ide liar inilah yang membuat kita tetap terus menulis, tanpa berhenti, tanpa memikirkan apa yang akan kita tulis. Dan, setelah ide liar itu kita tulis, maka tersisalah ide tentang berenang tadi. Sehingga fokus kita sekarang hanya kepada berenang saja. Masuk akal bukan? Bahwa ide-ide sampah yang kita bersihkan dengan cara menuliskannya akan membantu kita untuk kembali ke ide-ide berenang. Jika ide-ide sampah itu telah habis, otomatis ide-ide utama kita akan muncul kembali.
Memang banyak orang berpikir bahwa penulisan ide bebas itu menghabiskan banyak waktu. Misalnya, keluarnya ide-ide liar dan bebas di benak kita saat kita menulis ide pokok, akan menyita banyak waktu kita untuk menghilangkan ide-ide bebas itu. Kita harus mengeluarkan waktu lima menit sampai dua puluh menit untuk menghilangkan ide-ide sampah tadi. Ide-ide bebas ini telah menyita waktu penting kita. Ide-ide kreatif ini telah menghilangkan separuh waktu kita untuk menulis lebih giat lagi. Akan tetapi, sebaliknya menurut banyak pakar penulis bebas, justru dengan menuliskan ide-ide gila itulah membuat penulis nantinya akan lebih kreatif dalam penggalian ide untuk mendukung ide pokoknya. Menulis bebas tadi membuka cakrawala penulis untuk memasukkan banyak lagi ide-ide cemerlang yang memungkinkanna memperkaya pikiran, menajamkan pikiran, dan kritikan pedasnya terhadap sebuah ide yang muncul. Yang terpentig, menurut saya sekarang ini adalah pelatihan menulis bebas merupakan jembatan emas menghubungkan penulis menjadi penulis kreatif dan efektif. Coba sajalah menulis, menulis, dan menulis, Janganlah terlalu banyak dipikirkan. Setidaknya kita telah menjadi mesin pencipta kata. Hmm. (Armanto)
No comments:
Post a Comment