Kejujuran adalah sebuah kata sakral yang didambakan oleh setiap orang. Kejujuran sebagai asal kata jujur merupakan suatu karakter terpenting dalam hidup ini. Jujur bisa diartikan tidak berdusta, tidak berbohong, tidak mengada-ada, mengatakan apa adanya, menyampaikan seperti apa itu. Kejujuran dinantikan. Kejujuran didambakan. Kejujuran dijadikan hal nomor satu dalam setiap hubungan kemanusiaan. Kejujuran menjadi tolak ukur bagi semua orang untuk menciptakan suatu kepercayaann (trust). Kejujuran telah diajarkan sejak dahulu kala sampai sekarang agar terciptanya kedamaian. Akan tetapi, kejujuran di zaman milenial ini diwarnai oleh banyak kepalsuan. Kejujuran dijadikan kambing hitam untuk mencapai tujuan. Kejujuran ditumbalkan. Kejujuran dikhianati. Kejujuran menjadi gersang. Kejujuran sulit didapatkan. Haruskah kita membiarkan kejujuran itu gersang, hilang, dan tidak diperhatikan lagi? Haruskah kejujuran itu tinggal hanya sebagai lips service saja? Haruskah kejujuran dinodai dengan alasa-alasan dibuat-dibuat? Tentu saja banyak yang setuju bahwa kejujuran harus ditegakkan. "Sampaikanlah walau itu hanya satu ayat dan boleh jadi itu menyakitkan". Kejujuran itu meskipun terletak dalam lumpur, namun dia tetap kejujuran. Maka salah satu solusi jitu untuk menumbuhkan kejujuran adalah pendidikan karakter untuk generasi muda khususnya.
Mendidik anak jujur haruslah melalui contoh suri tauladan dari pendidik itu sendiri. Pendidik yang selalu berkata jujur dan menepati kata-katanya, biasanya menjadi contoh yang pantas ditiru oleh anak didik. Pendidik yang jujur disenangi oleh siswa-siswinya atau murid-muridnya di sekoah, bahkan di lingkungan masyarakat. Ketauladanan harus dipertahankan di sini. Jangan coba-coba itu diajarkan oleh oknum guru yang tidak jujur, perkataan guru itu nantinya akan menjadi pandangan bagi anak didik.
Kejujuran dalam ujian.
Sudahkah siswa jujur dalam ujian?
Secara umum, di sekolah tempat saya mengajar, secara jujur dikatakan bahwa sebagian besar siswa-siswa belum jujur dalam mengerjakan ujiannya. Masih banyak siswa yang menyelesaikan soal ujiannya dengan cara mencontek jawaban dari teman-temannya. Mereka melakukan berbagai cara agar mendapatkan jawaban itu. Meskipun tindakan mereka dijaga dan diawasi dengan ketat oleh guru atau pengawas ujian, namun sebagian besar masih bisa lolos dari pengawasan.
Rata-rata siswa yang lolos dari pengawasan saat ujian melakukan banyak hal yang cerdik buruk. Banyak trik yang mereka lakukan. Ada siswa yang mempersiapkan "jimat" sebelum ujian. Dari pantauan pengawas yang memermogoki peserta ujian, dia mengatakan bahwa "jimat' itu sudah mereka persiapkan dengan sempurna dari rumah. Istilah "jimat" itu sendiri baru diketahui yaitu catatan pelajaran yang siswa tulis atau ketik dengan tulisan yang amat kecil, misalnya dengan ukuran font 7 atau 6. Dan kertas untuk catatan jimat itu juga kecil mungil. Ukuran lebarnya bisa saja lebih kecil dari ukuran lebar telapak tangan. Tetapi ukuran kertas ke bawahnya sangat panjang. Bisa panjangnya tiga puluh sampai empat puluh centimeter. Dengan catatan yang ditulis dalam ukuran kertas sebesar ini (misalnya 4 cm x 30 cm) yang sering disebut "jimat", maka kertas itu dilipat dengan ukuran kecil-kecil hingga bisa disimpan dalam telapak tangan tanpa bisa dilihat oleh pengawas atau teman-teman siswa lainnya. Ukuran lipatan kecil itu bisa menjadi 4cm x 1 cm. Cukup rumit pembuatannya. Namun banyak siswa yang tidak perduli dengan tingkat kerumitan pembuatannya demi tujuannya tercapai. Yaitu bisa menjawab soal tanpa harus banyak belajar dan tanpa kerja keras. Demi untuk mencapai tujuan bisa menjawab semua soal dengan mudah, sebagian siswa rela mengorbankan kejujurannya.
Ada juga yang membuat "jimat" dengan menggunakan bahan lain. Ada siswa yang menulis beberapa catatan kecil, biasanya rumus-rumus, di atas bangku kayu tempat belajarnya. Bangku belajarnya ini biasanya telah penuh ditulis dengan berbagai catatan sebelum mereka ujian. Sehingganya, saat mereka mengalami kesulitan menjawab pertanyaan soal, maka dengan sigap dan cekatan, mereka bisa dengan mudah menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Tidak tanggung-tanggung, ada pula siswa yang menulis jimat itu di telapak tangannya. Ada juga yang nekat, siswi perempuan menuliskan jimat di atas roknya. Mereka berharap bahwa posisi jimat itu tidak akan dilihat oleh pengawas dengan anggapan pengawas merasa malu melihat roknya. Ada juga yang menulis jimat di atas rol plastik transparan. Sejenak, terlihat bahwa rol itu bersih, tidak terlihat coretan-coretan pena. tetapi, jika rol transparan itu diletakkan di atas kertas putih, maka coretan-coretan atau tulisan-tulisan jimat itu mudah terbaca. Peluang ini digunakan oleh siswa sebagai alat pembantu menjawab soal ujian. Demikianlah cara mereka memanfaatkan jimat agar bisa menjawab soal dengan mudah dan tanpa harus belajar di rumah.
Beberapa siswa "nakal" nekat mencari jawaban dengan melirik jawaban teman-temannya yang berada di sekitarnya. Dengan berani, siswa-siswi ini melihat lembara jawaban soal teman yang berada di samping kiri, disamping kanan, di belakang, dan di depan tempat duduknya. Maklum saja siswa ini mudah mendapatkan jawaba-jawaban itu karena bentuk jawaban itu hanyalah pilihan ganda (yaitu jawaban bertuliskan A, B, C, D, dan E). Dengan sekilas pandang saja, umumnya siswa sudah bisa menemukan tulisan jawaban A, B, C, D, dan E itu. Sungguh ketidak jujuran ini telah mengkontaminasi pikiran siswa dari waktu ke waktu. Suatu penciptaan ketidak jujuran yang sulit diterima.
Berapa siswa juga mengandalkan kekuatan telinganya, alias nguping, untuk mendapatkan jawaban dari teman-temannya yang saling berbisik memberikan jawaban. Dengan tangkas, siswa ini menangkap dengan cepat tentang jawaban apa yang dibahas oleh temannya. Wah. Memang ini suatu kegiatan yang tidak masuk akal. Tetapi, kenyataannya ini memang benar-benar terjadi. Kejujuran sudah lama dicederai oleh siswa.
Sikap Pengawas Ujian selama Ujian.
Terus terang, sikap pengawas ujian selama mengawas ujian sangat bervariasi. Ada pengawas yang begitu tegas dan sigap mengawasi siswa yang sedang ujian. Mereka betul-betul mengawasi perilaku peserta ujian dengan seksama. Pada kondisi ini, semua siswa berada dalam kondisi tidak nyaman. Resah dan prustasi. Siswa yang mencontek merasa gelisah karena tidak bisa berbuat apa-apa. Umumnya pengawas ujian seperti ini tidak disukai oleh siswa-siswa pencontek. Bahkan, pengawas ini ada juga yang ditegur oleh kepala sekolah atau guru-guru tertentu agar mengawas ujian tidak seketat itu. Hmmm. memang miris. Kejujuran lagi-lagi dicederai oleh sekolah itu sendiri. Alasannya adalah untuk membantu nilai siswa mendapatkan nilai yang baik.
Pada sisi lain, ada juga pengawas ujian yang bersikap cuek selama mengawas ujian. Pengawas seperti ini disukai oleh banyak peserta ujian. Bahkan kalau dapat, pengawas seperti ini menjadi pengawas favorit mereka. Pengawas cuek tidak perduli dengan kondisi pencontekan yang terjadi dihadapannya. Bahkan ada diantara pengawas jenis ini mengatakan "Asal kamu tenang dan tidak meribut selama ujian, saya tidak menegur kamu". Wah.. keterlaluan betul. Itu artinya, kamu mungkin boleh melihat jawaban atau mencontek asal tidak meribut dan risuh. Pengawas cuek sering melakukan pekerjaan lain dalam kegiatan mengawas. Ada pengawas yang membaca koran, duduk manis di meja pengawas sambil menikmati koran pagi. Ada juga yang mengerjakan tugas-tugas lain yang tidak ada hubungannya dengan tugas kepengawasannya. Kondisi ini berarti bahwa pengawas telah memberi peluang besar kepada peserta ujian untuk curang dan berbohong. Bukankah kejujuran lagi-lagi dicederai? Lalu siapa yang disalahkan dalam hal ini? Apakah kejujuran itu disebabkan oleh siswa atau pengawas? Jawabannya bisa beragam.
Di bahagian situasi lain, perlakuan guru terhadap siswa-siswa tertentu juga memicu ketidak jujuran. Ada oknum guru yang memberikan penilai tugas siswa di rumah, PR misalnya, berdasarkan hasilnya saja, tanpa menanyakan apakah siswa itu yang membuat sendiri atau dibuat oleh orang lain. Siswa-siswa yang memperoleh nilai lebih bagus dibandingkan dengan nilai-nilai siswa yang mengerjakan sendiri di rumah sangat berpengaruh kepada perhatiannya cara guru menilai. Karena penilaian berdasarkan hasil, maka sianak tadi berusaha untuk mencari hasil tugas yang terbaik, dengan cara lain. Yang penting tugas itu betul dan baik. Darimana asal jawaban, apalagi lewat bantuan google, itu tidak perduli. Toh, guru hanya butuh hasil jawaban yang benar. Akhirnya terjadilah ketidakjujuran dalam menyelesaikan tugasnya.
Cuplikan-cuplikan singkat catatan di atas menunjukkan bahwa ketidakjujuran itu sudah membiak di sekolah. Apakah ketidakjujuran ini harus kita biarkan? Ini adalah tanggungjawab kita bersama. Mengapa banyak orang berkata, "Demi masa depan anak kita, Cobalah mengawas dengan "baik". Bukankah mereka yang kita awasi ujian itu adalah "anak kita juga"? Inilah perkataan yang sering dilontarkan oleh oknum-oknum pejabat pendidikan, dengan tujuan agar pengawas ujian tidak begitu ketat dalam mengawasi peserta ujian. Waduuuuh... Sudah gila pendidikan kita ini dilihat dari segi ketidakjujuran. Asal nilai siswa baik, biarlah mereka mencontek. Beginilah kira-kira maksud oknum tersebut. Semoga kejadian ini bisa kita atasi.
Kita menyadari bahwa ketidakjujuran di sekolah bisa disebabkan oleh banyak hal. Bukan selama ujian saja, ketidakjujuran itu tampak, tetapi pada situasi-situasi pembelajaran lain terlihat di sekolah. Namun, ini sajalah dulu yang bisa saya bahas. Semoga kejujuran siswa dapat pulih kembali. Aamiin.
No comments:
Post a Comment